Perkuat Jati Diri Siswa, Bupati M. Syukur Ingin Pelajaran Adat Masuk Kurikulum Sekolah
BANGKO – Bupati Merangin, M. Syukur menegaskan komitmennya untuk menjadikan sektor pendidikan sebagai pilar utama pembangunan daerah.
Tidak hanya fokus pada pembenahan infrastruktur fisik, peningkatan mutu pendidikan berbasis penguatan kearifan lokal kini menjadi prioritas utama.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Merangin, M. Syukur, saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) bersama seluruh Kepala Sekolah tingkat TK, SD, dan SMP se-Kabupaten Merangin. Pertemuan strategis ini berlangsung di Aula Utama Lantai IV Kantor Bupati Merangin pada Rabu (15/7).
Dalam arahannya, Bupati M. Syukur menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk segera merumuskan formula integrasi kearifan lokal ke dalam kurikulum pembelajaran di sekolah. Salah satu program yang ditekankan adalah pembiasaan religius sebelum memulai kegiatan belajar mengajar (KBM).
"Bagi siswa yang beragama Islam, sebelum memulai belajar, dapat dibiasakan membaca Al-Qur'an atau Juz Amma. Untuk siswa nonmuslim, kegiatannya dapat disesuaikan dengan keyakinan masing-masing," ujar Bupati di hadapan ratusan kepala sekolah yang hadir.
Selain penguatan sisi religius, Bupati juga mewacanakan adanya sesi khusus untuk mempelajari adat istiadat daerah, minimal satu kali pertemuan dalam sebulan. Menurutnya, pemahaman terhadap budaya lokal sangat krusial agar generasi muda tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus modernisasi.
"Mengapa adat istiadat ini penting? Karena inilah ciri khas dan jati diri bangsa serta daerah kita. Jangan sampai generasi penerus kita kehilangan identitas dan tidak mengenal budaya mereka sendiri," tegasnya.
Bupati M. Syukur bahkan mengakui bahwa tantangan pemahaman adat ini juga terjadi di generasi usianya, sehingga intervensi melalui jalur pendidikan formal mutlak diperlukan.
Di hadapan para kepala sekolah, M. Syukur mengingatkan bahwa di era globalisasi saat ini, pemerintah maupun pihak sekolah tidak mungkin membendung perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial seperti TikTok oleh anak-anak.
Oleh karena itu, satu-satunya strategi yang bisa dilakukan adalah dengan membangun benteng pertahanan moral yang kokoh pada diri siswa.
"Perkembangan teknologi berjalan jauh lebih cepat daripada cara otak kita berpikir. Satu-satunya jalan adalah kita harus mampu mengimbanginya. Benteng pertahanan terakhir bagi generasi kita adalah adat istiadat, pendidikan karakter, dan budi pekerti," pungkasnya. (Indra/van/Kominfo)