Bupati M Syukur Soroti Ketimpangan Pendidikan dan Sentil Ego ASN
BANGKO – Bupati Merangin, M. Syukur, menyoroti secara tajam ketimpangan dan tantangan nyata di sektor pendidikan Kabupaten Merangin.
Hal tersebut disampaikannya secara terbuka di hadapan ratusan kepala sekolah tingkat TK, SD, hingga SMP se-Kabupaten Merangin dalam Rapat Koordinasi (Rakor) di Aula Utama Lantai IV Kantor Bupati Merangin, Rabu (15/7).
Dalam pertemuan tatap muka perdana secara menyeluruh sejak menjabat sebagai Bupati, M. Syukur mengajak para kepala sekolah berdiskusi jujur mengenai realitas pendidikan di lapangan. Ia menegaskan bahwa persoalan pendidikan bukan sekadar urusan infrastruktur fisik.
"Persoalan pendidikan di Merangin ini bukan persoalan yang dingin. Ini bukan hanya soal gedung atau bangku sekolah, tetapi ini adalah soal generasi, mutu, dan moral. Inilah yang membutuhkan kerja sama kita semua," tegas Bupati M. Syukur.
Berdasarkan pengamatannya selama memimpin Bumi Tali Undang Tambang Teliti, M. Syukur menilai perkembangan kualitas pendidikan di Merangin belum merata. Kemajuan signifikan dinilai baru menyentuh wilayah pusat kota dan sekolah-sekolah unggulan.
Sebaliknya, kondisi memprihatinkan masih membayangi sekolah-sekolah di kecamatan terpencil dan pelosok desa. Ia mengungkapkan temuan di mana sejumlah sekolah di daerah pelosok sama sekali tidak memiliki guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Bagaimana dengan sekolah-sekolah yang berada di pelosok desa dan kecamatan terpencil? Masih banyak sekolah yang saya temukan di lapangan sama sekali tidak memiliki guru berstatus PNS. Betul tidak?" tanya Bupati, yang langsung dijawab, "Betul," secara serempak oleh para kepala sekolah yang hadir.
Selain minimnya guru PNS, ia juga menyoroti banyaknya posisi kepala sekolah yang masih diisi oleh pelaksana tugas (Plt) alias belum definitif. Kondisi ini dinilai menghambat tata kelola dan manajemen sekolah agar berjalan optimal.
Dalam arahannya, Bupati M. Syukur juga memberikan teguran simpatik namun mendalam terkait komitmen dan sumpah profesi para pendidik. Ia mengingatkan bahwa pengabdian seorang guru tidak dibatasi oleh sekat geografis wilayah perkotaan saja.
"Ketika Bapak dan Ibu disumpah menjadi guru lalu ditunjuk menjadi kepala sekolah, tidak ada sumpah untuk hanya bertugas di kota. Tapi sampai sekarang, belum ada yang datang minta ditugaskan di pelosok. Yang ada itu marah-marah karena ditugaskan di pelosok," ujarnya disambut tawa para kepala sekolah.
Ia kemudian membagikan cerita emosional saat mengunjungi daerah terpencil di Kecamatan Tiang Pumpung. Di sana, ia bertemu seorang guru perempuan yang mengabdi dengan ikhlas di tengah keterbatasan sarana penunjang.
"Saya lupa nama daerahnya, waktu itu saya menyeberang sungai untuk membagikan bantuan bencana banjir. Saya bertemu seorang guru wanita, rumahnya sangat sederhana. Saya sempat menahan haru saat berbincang dengan guru tersebut. Beliau mengatakan ini sudah tugasnya untuk membantu masyarakat. Saya beri apresiasi dengan memberikan bantuan. Mungkin nilainya tidak seberapa, tapi keikhlasan itu yang terpenting. Pertanyaannya sekarang, masih adakah keikhlasan seperti itu di dalam diri kita?" tanyanya disambut keheningan.
Bupati M. Syukur meminta para tenaga pendidik untuk tidak lagi memprotes kebijakan penempatan tugas di wilayah pedesaan (dusun). Menurutnya, wilayah Merangin masih sangat terjangkau untuk diakses secara berkala.
"Sebenarnya tidak ada wilayah yang terlampau jauh di Merangin ini. Kalau alasan keluarga, suami, atau istri, semua bisa dikoordinasikan. Persoalannya, sampai hari ini kita terkadang belum mampu melawan ego diri kita masing-masing," pungkasnya. (Indra/van/Kominfo)